Kontroversi kembali muncul di dunia seni Indonesia setelah pameran tunggal seniman senior Yos Suprapto bertajuk Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan mendadak batal digelar di Galeri Nasional Indonesia pada akhir 2024. Pameran yang awalnya dijadwalkan berlangsung hingga Januari itu menjadi sorotan publik setelah beberapa lukisannya dianggap terlalu vulgar dan sensitif secara politik.
Masalah bermula ketika kurator meminta lima karya Yos Suprapto diturunkan karena dinilai tidak sesuai dengan tema pameran. Namun, Yos menolak permintaan tersebut. Perbedaan pandangan itu akhirnya membuat pameran dibatalkan hanya beberapa saat sebelum pembukaan resmi. Setelah polemik memanas, Yos bahkan memilih menurunkan seluruh lukisannya sendiri dari Galeri Nasional.
Beberapa karya yang dipermasalahkan menampilkan simbol-simbol kekuasaan dengan visual yang cukup frontal. Salah satu lukisan yang viral memperlihatkan figur penguasa duduk di kursi besar dengan latar aparat bersenjata dan tubuh manusia di bawahnya. Ada juga karya lain yang menampilkan sosok menyerupai tokoh politik bersama simbol-simbol hewan dan kerumunan massa. Banyak warganet menilai karya tersebut sebagai bentuk kritik sosial dan politik yang tajam.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon sempat menyebut beberapa lukisan Yos mengandung unsur vulgar dan sensitif. Di sisi lain, banyak seniman dan akademisi justru mempertanyakan keputusan pembatalan tersebut karena dianggap membatasi ruang ekspresi seni. Pakar budaya dari Universitas Airlangga bahkan menyebut persoalan ini lebih disebabkan oleh komunikasi yang buntu antara seniman dan kurator, bukan semata soal isi karya.
Kasus ini kemudian memicu perdebatan lebih luas di media sosial: apakah seni masih memiliki ruang bebas untuk mengkritik kekuasaan? Atau justru ada batas tertentu ketika karya dianggap terlalu politis?
Di tengah pro dan kontra itu, satu hal yang pasti: karya-karya Yos Suprapto berhasil membuat publik kembali membicarakan fungsi seni sebagai medium kritik sosial. Dan mungkin, justru di situlah letak kekuatan paling besar dari sebuah lukisan.